Senin, 24 April 2017

PENDEKATAN TRADISIONAL FORMULASI TEORI AKUNTANSI

 

 Hakika Teori Akuntansi 
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan basis bagi peramalan dan penjelasan perilaku dan peristiwa akuntansi. Kita asumsikan, sebagai salah satu pasal dari kepercayaan, bahwa teori akuntansi adalah suatu hal yang mungkin. Teori didefinisikan sebagai “ suatu rangkaian gagasan, difinisi dan usulan yang saling berhubungan yang melambangkan suatu pandangan sistematis atas fenomena melalui penentuan hubungan yang ada diantara variable-variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
 Pendekatan Tradisional Formulasi Teori Akuntansi Reaksi Metode 
1. Deskriptif / Normatif
2. Teoritis / Unteoritis
3. Penjelasan Deskriptif / Induktif 
4. Fokus : konsep belajar kesejahteraan sosial / ekonomi
 Metodologi - Metodologi dalam Penyusunan Teori Akuntansi
Perbedaan opini, pendekatan, dan penilaian akuntansi menyebabkan munculnya dua metodologi, deskriptif dan normatif:
1.  Teori deskriptif: dalam profesi akuntansi ada keyakinan yang luas bahwa akuntansi merupakan suatu seni yang tidak dapat diformalkan dan bahwa mwtodologi yang digunakan secara tradisional dalam penyusunan teori akuntansi merupakan sebuah upaya menilai apa yang terjadi melalui praktik-praktik akuntansi.
2.  Teori Normatif: berupaya menyajikan lebih pada “apa yang seharusnya” (ought to be) daripada “apa yang terjadi” (what is). 
 Pendekatan-Pendekatan dalam Penyusunan Teori Akuntansi
1.     Pendekatan Non Teoritis

Pendekatan Pragmatis terdiri dari penyusunan teori yang ditandai dengan penyesuaian terhadap praktik sesungguhnya yang bermanfaat untuk memberi saran solusi praktis. Teknik-teknik dan prinsip akuntansi seharusnya dipilih atas dasar manfaatnya bagi pengguna informasi akuntansi dan keterkaitannya dengan proses pembuatan keputusan.
Pendekatan Otoritarian dalam penyusunan teori akuntansi yang umumnya digunakan oleh organisasi profesi terdiri dari sejumlah peraturan praktik-praktik akuntansi. “Suatu teori tanpa konsekuensi praktik adalah teori yang buruk”.
2.     Pendekatan Deduktif
Pendekatan ini dimulai dengan adanya asumsi-asumsi dasar dan hasil penarikan konklusi yang bersifat logis tentang suatu subjek dengan sejumlah pertimbangan.
Tahap-tahap yang digunakan untuk menjalankan pendekatan deduktif terdiri dari:
· Penetapan tujuan-tujuan pelaporan keuangan
· Pemilihan dalil-dalil akuntansi
· Penentuan prinsip-prinsip akuntansi
· Pengembangan teknik-teknik akuntansi
3.     Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif dalam penyusunan teori akuntansi dimulai dengan serangkaian pengamatan, kemudian pengukuran serta selanjutnya aktivitas untuk memperoleh suatu konklusi. Pendekatan induktif dalam penyusunan teori akuntansi mencakup 4 tahap:
· Pencatatan seluruh pengamatan
· Penganalisaan dan pengelompokkan pengamatan untuk mendeteksi adanya hubungan yang berulang (kesamaan/kemiripan).
· Penginduksian asal mula konklusi-konklusi dan prinsip-prinsip akuntansi dari pengamatan-pengamatan yang menggambarkan hubungan secara berulang.
·  Pengujian konklusi yang dibuat.
4.     Pendekatan Sosial
Pendekatan sosiologi bagi perumusan teori akuntansi menekankan pengaruh social dari teknik akuntansi. Hal ini merupakan pendekatan etis yang berpusat pada suatu konsep dari kewajaran yang lebih luas, kesejahteraan social. Berdasar pada pendekatan sosiologi, prinsip atau teknik akuntansi yang ada dievaluasi untuk penerimaan dari dasar pengaruh laporannya terhadap seluruh kelompok dalam komunitas.

Pendekatan sosiologis dalam penyusunan teori akuntansi menekankan pada akibat-akibat sosial yang ditimbulkan teknik-teknik akuntansi. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan etis yang dasarnya merupakan suatu perluasan konsep kewajaran yang dinamakan kesejahteraan sosial (social walfare).
Pendekatan sosiologis adalah socioecomic accounting dengan tujuan mendorong entitas bisnis yang beraktivitas dalam pasar bebas agar mempertanggungjawabkan aktivitas produksi mereka terhadap lingkungan sosial melalui pengukuran, internalisasi, dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
5.     Pendekatan Ekonomi
Pendekatan ekonomi dalam merumuskan suatu teori akuntansi menekankan pada pengendalian perilaku dari indicator-indokator makro ekomoni yang dihasilkan oleh adopsi dari berbagai teknik akuntansi. Ketika pendekatan etis berfokus pada suatu konsep “kewajaran” dan pendekatan sosiologi pada suatu konsep “ kesejahteraan social”, pendekatah ekonomi berfokus pada suatu konsep dari “ kesejahteraan ekonomi umum”. Konsekuensi ekonomi dari laporan keuangan termasuk, antara lain :
Ø  Distribusi kesejahteraan.
Ø  Tingkat resiko agregat dan alokasi resiko diantara individu.
Ø  Konsumsi dan produksi agregat.
Ø  Alokasi sumber daya antar perusahaan.
Ø  Penggunaan dari sumber daya dalam sektor privat mencari informasi.

Daftar Pustaka
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2006. “Accounting Theory, Teori Akuntansi edisi 5”. Cengage Learning. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.


 

Minggu, 17 April 2016

MONEY AND HAPPINES


"Money can not buy happines" is a truth which is often mentioned. Although this is true, poverty will not be able to buy happines. Some people became very rich, but they still have to struggle to enjoy their lives. on the other hand, others were able to go through life with a bit of financial problems simply because they are able to optimize what they have.
 
Money traditional economics is defined as any means of exchange that can be generally accepted. A medium of exchange that can be any object that can be accepted by everyone in the community in the process of exchange  of goods and services . In modern economics, money is defined as something that is available and generally accepted as a means of payment for the purchase of goods and services as well as other valuable property and for the payment of debts.

Happines or excitement is a state of mind or feeling characterized by adequacy of up to pleasure, love, satisfaction, pleasure, or intense joy. A variety of approaches to philosophy, religion, psychology, and biology has been done to define happines and determine its source.

"having a lot of money and live a happy life", perhaps this is a picture of an ideal life goals shared by most of the people. Howeher, "a lot of money" is a relative value and will be different for each person, where this value takes effect and also the different qualities to them.

Most people would struggle all his life to earn money, even though the amount of money he has had mote than enough to meet all their needs with the family. However, most people with this kind of thinking seemed to find it difficult to enjoy the money that has been produced with great difficult, for which the people  are busy and spend time searching for, and finding more money.

While on the other hand, some other people live their lives happily together with a number of financial problems that sometimes block at the end of the month on the eve on payday. They stay relaxed and enjoy it every time with how to optimize all the potential they have. "Money is never enough, but is must remain a happy life", so to speak thoughts contained in these people.

Of course there are different views so far on two groups of people at the top, but basically they describe that money does not always guarantee happiness is not it?
Basically, everyone should have and fight for a worldview that smart about money and happines, where it would be ideal if these two things could be run and implemented by way of concurrent.

Quotes : "Money can help you learn certain things, but you have the ability or natural talent comes from yourself. If you are one among those who believe money can buy happiness to get the knack, you are wrong!. Money can only help you develop and improve the talents that have been buried.

Happiness
Money can buy happiness and pleasure only in the short term only. In essence, true happiness is in yourself. You decide how you should be happy.

In essence, the money can give happiness but not all things can be bought with money.

 


Rabu, 13 Januari 2016

TUGAS BULAN KETIGA



TUGAS 3





1.      Konsep Menulis Laporan Ilmiah
2.      Proses Penyusunan Karya Tulis Ilmiah
3.      Rancangan Usulan Penelitian


Nama : Ibnu Muttaqin
NPM : 24213176
Kelas : 3EB07



DAFTAR ISI

1.     KONSEP MENULIS LAPORAN ILMIAH

a.     Pengertian Laporan Ilmiah ..................................................     1         
b.     Jenis – Jenis Laporan Ilmiah ................................................    2         
c.      Ciri – Ciri Laporan Ilmiah ...................................................      3
d.     Unsur – Unsur Kerangka Laporan .....................................      3
e.     Manfaat Laporan ..................................................................    4
2.     PROSES PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH
a.     Proses Mengarang Ilmiah .....................................................    5
b.     Penggunaan Bahasa Tulis ....................................................     6         
c.      Tahap Penyusunan Karya Ilmiah .......................................      7
d.     Penyajian Karya Ilmiah ........................................................    8
3.     RANCANGAN USULAN PENELITIAN
a.     Bentuk Rancangan Usulan Peneltian ..................................     10
b.     Isi Rancangan Usulan Penelitian ..........................................    10









1.     KONSEP MENULIS LAPORAN ILMIAH
Konsep dari laporan ilmiah adalah berkaitan dengan penelitian, fakta, dan objektif dari permasalahan yang dibahas dalam laporan ilmiah. Maka itu laporan ilmiah harus objektif, dan sesuai dengan fakta yang ada, serta disusun secara sistematis.
Penulisan laporan adalah penyampaian pengalaman peneliti dan hasil-hasilnya kepada masyarakat luas sehingga dapat berguna bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan.
A.    Pengertian Laporan Ilmiah
 Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan (E.Zaenal Arifin,1993). Dan menurut Nafron Hasjim & Amran Tasai (1992) Karangan ilmiah adalah tulisan yang mengandung kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data yang benar dan disajikan dengan penalaran serta analisis yang berdasarkan metode ilmiah. Laporan ilmiah adalah bentuk tulisan ilmiah yang disusun berdasarkan data setelah penulis melakukan percobaan, peninjauan, pengamatan, atau membaca artikel ilmiah.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan tentang laporan ilmiah :
1.     Kegiatan menulis laporan ilmiah merupakan kegiatan utama terakhir dari suatu kegiatan ilmiah.
2.     Laporan ilmiah mengemukakan permasalahan yang ditulis secara benar, jelas, terperinci, dan ringkas.
3.     Laporan ilmiah merupakan media yang baik untuk berkomunikasi di lingkungan akademisi atau sesama ilmuwan.
4.     Laporan ilmiah merupakan suatu dokumen tentang kegiatan ilmiah dalam memecahkan masalah secara jujur, jelas, dan tepat tentang prosedur, alat, hasil temuan, serta implikasinya.
5.     Laporan ilmiah dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuwan lain sehingga syarat-syarat tulisan ilmiah berlaku juga untuk laporan.
6.     Laporan ilmiah, umumnya, mempunyai garis besar isi (outline) yang berbeda-beda, bergantung dari bidang yang dikaji dan pembaca laporan tersebut. Namun, umumnya, isi laporan terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.
B.    Jenis - Jenis Laporan Ilmiah :

1.     Laporan lengkap (monograf) adalah laporan yang berisi proses penelitian secara menyeluruh, dengan mengutarakan semua teknik dan pengalaman penelitian dalam melaksanakan kegiatan penelitian.
2.     Artikel ilmiah adalah laporan yang berisi intisari dari laporan lengkap. Penulisannya lebih padat dan disesuaikan dengan jumlah halaman yang disediakan dalam jurnal-jurnal ilmiah.
3.     Laporan ringkas (summary report) adalah laporan dari artikel yang sudah pernah diterbitkan yang ditulis ulang dengan menggunakan bentuk dan gaya penulisan yang lebih sederhana; sehingga dapat dipahami oleh masyarakat luas.
4.     Laporan untuk administrator dan pembuat keputusan adalah laporan penelitian yang diberikan kepada pemerintah, terutama berkenaan dengan penelitian tindakan.

C.    Ciri – Ciri Laporan Ilmiah
1.     Ditujukan kepada pembaca tertentu;
2.     Sistematika laporan kadang disesuaikan dengan permintaan pemberi perintah atau pesanan (dalam suatu hibah kompetensi);
3.     Bahasanya formal, harus disesuaikan dengan standar Bahasa Indonesia yang disempurnakan;
4.     Memerhatikan kaidah-kaidah ilmiah sesuai dengan disiplin keilmuannya;
5.     Objektif.
D.    Unsur - Unsur Kerangka Laporan
Kerangka Laporan ilmiah umumnya terdiri dari 3 atau 4 bagian yang disusun dari atas kebawah sebagai berikut:
1.     Judul laporan terdiri terutama subjek, atau didahului dengan ‘Laporan tentang’ ‘Laporan Kemajuan tentang’  ’Laporan Tahunan tentang’ ’Penelitian tentang’ dan sebagainya. Judul laporan berbeda dari judul buku.
2.     Nama dan identitas penerima laporan. Unsur ini tidak selalu ditulis, jika ditulis, maka sebelumnya didahului dengan kata-kata ‘Diserahkan kepada’. Jika penerima laporan memiliki kedudukan resmi, tulislah kedudukan itu. Dan Nama dan identitas penulis Sebelum nama penulis biasanya didahului dengan perkataan ‘Oleh’ dan diikuti oleh gelar.
3.     Tempat dan tanggal Dibagian bawah halaman ditulis tempat dan tanggal dalam 2 baris terpisah.

E.    Manfaat Laporan
Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :
a. Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan.
b. Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.
c. Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.
d. Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain.

2.     PROSES PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH
A.    Proses Mengarang Ilmiah
Asas-asas Mengarang secara jelas
Di Amerika Serikat dalam tahun 1944  didirikan Robert Gunning Associates, sebuah badan usaha yang memberikan Penyuluhan Keterbacaan (Readability counseling) dan kursus/latihan dalam penulisan yang jelas (clear writing) kepada berbagai penerbit dan surat kabar. Pendirinya Robert Gunning kemudian mengarang buku-buku berjudul Principles of Clear Writing, Clear News Writing, The Technique of Clear Writing.
Berikut ini adalah sepuluh asas mengarang secara jelas yang dikemukakannya.:
1.     Usahakanlah kalimat-kalimat yang pendek
Panjang ata-rata kalimat dalam suatu karangan merupakan suatu tolak ukur yang penting bagi keterbacaan. Kalimat-kalimat harus selang-seling antara panjang dan pendek. Penulisan kalimat yang panjang harus diimbangi dengan kalimat-kalimat yang pendek sehingga meningkatkan kejelasan karangan.


2.     Pilihlah yang sederhana daripada yang rumit
Kata-kata yang sederhana, kalimat yang sederhana, bahasa yang sederhana lebih meningkatkan keterbacaan suatu karangan.
3.     Pilihlah kata yang umum dikenal
Dalam mengarang gunakanlah kata-kata yang telah dikenal masyarakat umum.sehingga ide yang diungkapkan dapat secara mudah dan jelas dipahami oleh pembaca
4.     Hindari kata-kata yang tidak perlu
Setiap perkataan harus mempunyai peranan dalam suatu kalimat dan karangan. Kata-kata yangt tak perlu hanya melelahkan pembaca dan melenyapkan perhatiannya dari pembaca.
5.     Berilah tindakan dalam kata-kata kerja Anda
Kata kerja yang aktif, ang mengandung tindakan, dan yang menunjukan gerak akan membuat suatu karangan hidup dan bertenaga untuk menyampaikan pesan/warta yang dimaksud. Kalimat “Bola itu menjebol gawang lawan” lebih bertenaga dari “Gawang lawan kemasukan bola itu”
6.     Menulislah seperti Anda bercakap-cakap
Perkataan tertulis hanya sebagai pengganti  perkataan yang diucapkan lisan. Dengan mengungkapkan gagasan seperti halnya bercakap-cakap, karangan menjadi lebih jelas.
7.     Pakailah istilah-istilah yang pembaca dapat menggambarkannya
Perkataan yang konkret lebih jells bagi pembaca daripada perkataan yang abstrak.
Sebagai contoh, “factory town” (kota dengan banyak pabrik) lebih mudah dimengerti dengan istilah “industrial community” (masyarakat industri).
8.     Kaitkan dengan pengalaman pembaca Anda
Karangan yang jelas ialah bilamana dapat dibaca dan dipahami pembaca sesuai dengan latar belakang pengalamannya

.
9.     Manfaatkan sepenuhnya keanekaragaman
Karangan tidak boleh senada, datar, sepi sehingga membosankan pembaca. Harus ada variasi dalam kata, frase, kalimat  maupun ungkapan lainnya. Kata Disraelli, “Keanekaragaman dalam karangan adalah sumber kesenangan dalam pembacaan”
10.  Mengaranglah untuk mengungkapkan, bukan untuk mengesankan
Maksud utama mengarang ialah  mengungkapkan gagasan, bukan menimbulkan kesan pada pihak pembaca  mengenai kepandaian, kebolehan, atau kehebatan diri penulisnya.( Widyamartaya, 1997: 87)

B.     Penggunaan Bahasa Tulis
Ø  Dalam menggunakan kata dan frase
1.     Hendaknya hindari pemakaian kata atau frase tutur dan kata atau frase setempat, kecuali bila sudah menjadi perkataan umum.
2.     Hendaknya hindari pemakaian kata atau frase yang telah usang atau mati.
3.     Hendaknya kata atau frase yang bernilai rasa digunakan secara cermat, sesuai dengan suasana dan tempatnya. 
4.     Hendaknya kata-kata sinonim dipakai secara cermat karena kata-kata sinonim tidak selamanya sama benar arti pemakaiannya.
5.     Hendaknya istilah-istilah yang sangat asing bagi umum tidak dipakai dalam karangan umum.
6.     Hendaknya hindari pemakaian kata asing  atau kata daerah bila dalam bahasa Indonesia sudah ada katanya, jangan menggunakan kata asing hanya karena terdorong untuk bermegah dan berbahasa tinggi.
7.     Untuk memperkecil banyaknya kata yang kembar dan kata bersaingan, dan untuk menghindari beban atau pemberat yang  tidak perlu dalam pemakaian bahasa, sebaiknya dipedomani kelaziman dan ketentuan ejaan.

Ø  Dalam menyusun kalimat
1.          Gunakanlah kalimat-kalimat pendek
2.          Gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang
3.          Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya
4.          Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk
5.          Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif
6.          Gunakan bahasa padat dan kuat
7.          Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negative

C.    Tahap Penyusunan Karya Ilmiah
Secara umum, tahap – tahap yang perlu dilakukan dalam penyusunan karangan ilmiah dibagi menjadi lima tahap, yaitu :
1.     Tahap persiapan adalah tahap awal yang perlu dilakukan dalam menulis karangan ilmiah. Tahap ini terdiri dari, memilih topik, menentukan judul, dan membuat kerangka karangan. Topik yang dipilih sebaiknya topik yang menarik dan diketahui oleh penulis. Selain itu, topik yang baik adalah topik yang mempunyai lingkup yang terbatas. Setelah menentukan topik langkah selanjutnya adalah menentukan judul. Penentuan judul dalam karangan ilmiah dapat dilakukan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, di mana, kapan, bagaimana. Selain itu, dalam membuat sebuah karangan ilmiah judul haruslah berupa frasa bukan kalimat. Langkah terakhir dalam tahap persiapan adalah menentukan kerangka karangan. Kerangka ini nantinya akan membantu dalam proses penulisan karangan. Selain itu, kerangka inilah yang akan menjadi acuan dalam membuat karangan sehingga akan menjadi runtut dan teratur dalam memaparkan atau menganalisis masalah.
2.     Tahap kedua dalam menulis karangan ilmiah adalah pengumpulan data. Data dapat diperoleh dari beberapa sumber yaitu, media dan lapangan. Data yang diperlukan dapat diperoleh dari media, antara lain buku, koran, majalah, internet, ataupun media yang lain. Selain itu, data juga dapat diperoleh langsung di dalam lapangan. Data yang berasal dari lapangan dapat diperoleh dengan cara pengamatan, wawancara, atau eksperimen. Data yang dikumpulkan haruslah data yang relevan dengan karangan yang akan dibuat.
3.     Dalam pengorganisasian atau pengonsepan, data yang telah kita peroleh dibagi berdasarkan jenis, sifat, atau bentuk. Pada tahap ini dilakukan pengolahan dan penganalisisan data dengan menggunakan teknik yang diperlukan. Misalnya, data yang bersifat kuantitatif dapat diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik atau metode statistik. Setelah data diolah dan dianalisis, kemudian dapat dilakukan pengonsepan karangan ilmiah sesuai dengan kerangka yang telah dibuat.
4.     Tahap keempat adalah pemeriksaan atau penyuntingan konsep. Dalam tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap konsep yang saling bertentangan maupun yang berulang-ulang. Dalam tahap ini, penjelas yang tidak diperlukan maka akan dibuang, sedangkan penjelas baru yang akan mendukung karangan akan ditambahkan untuk menunjang pembahasan.
5.     Tahap terakhir dalam menyusun karangan ilmiah adalah penyajian. Dalam penyajian karangan ilmiah haruslah diperhatikan dari segi bahasa dan bentuk penyajian. Kalimat yang digunakan dalam menulis karangan ilmiah harus sesuai dengan standar Bahasa Indonesia yang baku. Sedangkan dalam bentuk penyajian, perlu diperhatikan urutan unsur-unsur karangan dan ketentuan yang berlaku.


D.     Penyajian Karya Ilmiah
Penyajian karya  tulis ilmiah harus enak dan nyaman untuk dinikmati. Pembaca karya ilmiah, harus merasakan adanya daya lukis, daya kupas, dan daya tafsir yang memadai atas setiap satuan dan keseluruhann uraian, seperti :
1.          Tepat, konsisten, dan lengkapnya deskripsi data.
2.          Kemampuan deskripsi data memberikan “isyarat” ke tahap berikutnya.
3.           Tepat, konsisten, dan lengkapnya analisis data.
4.          Tepat dan lengkapnya kesimpulan setiap satuan dan keseluruhan analisis data.
5.          Tepat dan jelasnya kesimpulan menjawab masalah penelitian/tujuan penulisan karya tulis; hipotesis yang diajukan.
6.          Tepat dan mengenanya implikasi yang dikemukakan serta saran-saran yang diberikan (implikasi merupakan dampak teoritis terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, atau penerapan praktis pada pemecahan masalah dan penentuan kebijakan. Saran hendaknya bersifat operasional. Dapat juga diberikan saran untuk penelitian lanjutan dan pengembangan ilmu dan peningkatan pembinaan).
7.          Tertatanya segala sesuatu  (asas organisasi), dan sifat-sifat penanganan penulisanyang bersungguh-sungguh, bertanggung jawab dan kolaboratif. 
8.          Ada berbagai bentuk organisasi laporan  penelitian dan sejenisnya. Namun bentuk-bentuk organisasi itu pada dasarnya sama, yakni terdiri atas tiga bagian :  Bagian Awal, Bagian Teks dan Bagian Akhir.



3.     RANCANGAN USULAN PENELITIAN
Rancangan usulan penelitian adalah langkah yang paling awal dalam proses penyusunan penelitian. Usulan penelitian adalah langkah berikutnya, dan makalah adalah hasil akhirnya. Rancangan usulan penelitian ini memberi gambaran secara menyeluruh tentang pokok masalah yang hendak diteliti, teori dan konsep serta data yang dipakai untuk melakukan penelitian; cara penelitian dilakukan dan hasil yang diharapkan akan dicapai. Rancangan usulan penelitian ini dipakai untuk menilai apakah seorang itu bisa mulai melakukan penelitian secara mandiri.
·       Bentuk Rancangan Usulan Peneltian
Suatu penelitian itu mungkin bermaksud dan bertujuan untuk memperoleh data informasi dan kemudian untuk bahan menulis. Misalnya:
a.      Skripsi
b.     Makalah untuk seminar, simposium, dan pertemuan ilmiah lainnya
c.      Karangan ilmiah
d.     Tesis magister/disertasi doctor
e.      Laporan proyek

·       Isi Rancangan Usulan Penelitian
a.  Bagian Awal
1.     Judul
Judul rancangan usulan penelitian diketik dengan huruf kapital. Judul hendaklah cukup ekspresif menunjukkan dengan tepat masalah yang hendak diteliti. Di bawah judul ditulis kalimat :
Rancangan Usulan Penelitian Untuk Disertasi
2.     Identitas Penulis
Nama : hanya huruf-huruf pertama yang diketik dengan huruf Kapital.
3.      Tanggal Pengajuan, ditulis :
Diajukan kepada Program Pascasarjana
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
pada tanggal
………………………….. 20………
b. Bagian Utama
1.     Perumusan Masalah
Unsur pokok perumusan masalah ini sekurang-kurangnya harus memuat hal-hal sebagai berikut :
a)     Penjelasan mengenai mengapa masalah yang dikemukakan dalam rancangan usulan penelitian untuk disertasi itu dipandang menarik, penting dan perlu diteliti.
b)     Beberapa bukti bahwa masalah tersebut belum ada jawaban atau pemecahan yang memuaskan.
c)     Letak masalah yang akan diteliti itu dalam konteks permasalahan yang lebih besar.
2.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Dalam fasal tujuan dan kegunaan penelitian ini disebutkan secara spesifik tujuan-tujuan apa yang dirancangkan akan dicapai dalam penelitian itu dan kegunaan apa yang akan diperoleh dari penelitian yang dirancangkan.
3.     Kerangka Pemikiran Teoritis
Fasal kerangka pemikiran teoritis memuat garis-garis besar pemikiran teoritis, termasuk telaah pustaka yang akan menuntun penyusun dalam membangun teori yang akan disajikan dan diuji dalam rangka penyusunan disertasi.
4.     Hipotesis
Hipotesis, jika ada, hendaklah dirumuskan dengan tepat dan jelas dalam kalimat berita (kalimat deklaratif) tentang sikap ilmiah yang diambil terdapat masalah yang hendak diteliti.
5.     Metode Penelitian
Pasal metode penelitian memuat hal-hal sebagai berikut:
a)     Pendekatan dan bentuk/cara yang dipakai untuk meneliti.
b)     Penjelasan tentang populasi serta rancangan teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian.
c)     Metode pengumpulan data dan alat pengambil data yang akan digunakan.
d)     Bahan-bahan yang akan dipakai, kalau ada.
e)     Alat-alat perlengkapan yang akan dipakai, kalau ada.
f)      Teknik atau model analisis yang akan dipakai.
g)     Rancangan aturan-aturan untuk menerima atau menolak hipotesis.
6.     Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian dibuat secara cermat, dengan mempertimbangkan kelayakannya. Jadwal penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
a)     Tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan.
b)     Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan masing-masing tahap, dinyatakan dalam satuan bulan.
c)     Rincian kegiatan untuk tahap masing-masing.
7.     Bagian Akhir
1)      Daftar Pustaka
Penulisan daftar pustaka didasarkan atas pustaka yang telah dijadikan sumber dalam penyusunan rancangan usulan penelitian. Tujuan utama penyajian daftar pustaka adalah memberi informasi mengenai bagaimana orang dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan dalam rancangan usulan penelitian.

Hal-hal yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka adalah seperti disebutkan dibawah ini :
§  Untuk buku :                            
1.Nama penulis
2.Tahun penerbitan
3.Judul buku
4.Nama penerbit
5.Tempat penerbitan.

§  Untuk jurnal :
1.Nama penulis
2.Tahun penerbitan
3.Judul tulisan
4.Nama jurnal
5.Jilid ( dan nomor )
6.Halaman

§  Untuk sumber pustaka lain dapat digunakan pedoman yang lazim.

§  Cara menulis pustaka dan artikel sesuai ketentuan yang berlaku.


2)     Daftar Riwayat Hidup
Daftar riwayat hidup (bio-data, curriculum vitae) penyusun rancangan usulan penelitian memuat hal-hal sebagai berikut :
a.Nama lengkap dan derajat akademik
b.Tempat dan tanggal lahir
c.Pangkat dan jabatan
d.Riwayat pendidikan tinggi
e.Karya ilmiah
f.Pertemuan ilmiah yang dihadiri dan
g.Penghargaan ilmiah, bila ada.

DAFTAR PUSTAKA